SEMINAR NASIONAL HIMPUNAN PROFESI SATWALIAR 2014

“Aplikasi Medis Veteriner dalam Konservasi Lumba-lumba Berbasis Animal Welfare”

  1. KEBIJAKAN DAN ATURAN MENGENAI LUMBA-LUMBA DI INDONESIA

Ir. Bambang Dahono Aji, MM, MSi

      Konservasi lumba-lumba diatur dalam UUD 1945 pasal 36, PP no 7/ 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwaliar, PP no 8/1999 tentang Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwaliar, Permenhut P.31/2012 tentang Lembaga Konservasi, dan Perdirjen P.16/ 2014. Seluruh family Dolpihindae di perairan Indonesia dilindungi PP no 7/ 1999.

      Dalam melakukan konservasi lumba-lumba ada berbagai macam syarat yang harus dipenuhi dalam rangka menjaga terlaksananya animal welfare. Hal ini diatur dalam Perdirjen P.16/ IV-SET 2014 tentang Pedoman Peragaan Lumba-lumba. Ruang lingkup peraturan ini adalah sarana dan prasarana (kolam, atap, dan perawatan serta standar kualiatas air kolam), pakan (ikan segar dengan ketentuan tertentu dan cara pemberian tertentu), perawatan kesehatan rutin (pihak yang berwenang dalam perawatan kesehatan), peragaan (transportasi dan kendaraan yang digunakan), serta pembinaan, evaluasi, dan pelaporan.

  1. LUMBA-LUMBA HIDUNG BOTOL

Drh Dwi Restu Seta, MM

      Lumba-lumba hidung botol yang berada di perairan Indonesia adalah Tursiops aduncus yang memiliki moncong lebih panjang dan perut dengan spot-spot putih. Pada perairan panas seperti di Indonesia, lumba-lumba ini tidak melakukan banyak pergerakan imigrasi. Lumba-lumba memiliki sifat senang membantu dan menyelidiki hal baru, serta hidup berkelompok. Lumba-lumba bersikap toleransi dan menghidari agresi dengan hewan lain.

       Lumba-lumba merupakan predator aktif yang makan hampir apa saja. Lambung lumba-lumba kompleks dan sangat berguna untuk pemeriksaan cepat. Umur lumba-lumba bisa diketahui dari gigi (lapisan irisnya).

      Konservasi ex situ dibutuhkan untuk penyelidikan lebih lanjut terhadap lumba-lumba . Lumba-lumba terganggu oleh aktivitas manusia seperti lalu lintas perahu, perburuan hewan, dan interaksi perikanan.

  1. BIOSONAR DALAM KEHIDUPAN CETACEA

Adriani Sunuddin, SPi, MSi

      Lumba-lumba menggunakan gelombang suara berupa sonar untuk berkomunikasi dan berburu mangsa. Gelombang suara lebih cepat merambat pada media cair dibanding udara. Lumba-lumba mengeluarkan 3 macam suara yaitu sinyal klik, sinyal pekikan, dan sinyal bernada.

      Proses kejadian gelombang ultrasonic pada lumba-lumba yaitu produksi sinyal suara untuk mengidentifikasi objek sekitar, menerima sinyal pantulan dari suara tersebut, dan analisis untuk mengetahui keadaan sekitar. Pada lumba-lumba, organ yang turut berfungsi dalam proses biosonar adalah dolphin nasal complex, tulang tengkorak, melon, mandible, jaringan lemak di dalam mandible ,dan tulang timpanoperiotik.

  1. APLIKASI MEDIS VETERINER

Drh Yus Anggoro Saputra

      Salah satu dasar dari aplikasi medis lumba-lumba dalam konservasi ex situ adalah aplikasi kesejahteraan hewan. Five freedom menurut FAWC 1979 terdiri atas bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari ketidaknyamanan, bebas dari rasa sakit dan penyakit, bebas untuk mengekspresikan sifat-sifatnya, dan bebas dari rasa takut maupun ancaman.

      Lumba-lumba diberi pakan berupa ikan beku dan multivitamin dan diawasi serta dikontrol kualitas air kolamnya. Air kolam diolah langsung dari laut sambil tetap memperhatikan klorin, pH, suhu, dan salinitasnya dengan pemeriksaan harian dan pemeriksaan lengkap bulanan agar sesuai standar. Lumba-lumba yang diperlihara di konservasi ex situ diperhatikan nafsu makan dan keadaan presentnya, dan dilakukan pemeriksaan parasite pada blowhole dan feses serta pemeriksaan darah secara rutin. Metode yang bisa digunakan dalam menghandle hewan selama pemeriksaan kesehatan rutin ini misalnya voluntary animal husbandry training. Transportasi terhadap lumba-lumba harus diperhatikan agar tidak menimbulkan stress berlebihan kepada lumba-lumba.

      Sebagai lembaga konservasi, program breeding juga dilakukan. Kelahiran anak lumba-lumba ditandai oleh 3 tahap, di mana induk tidak mau makan, keluar ekor anak dan induk berenang berputar-putar selama 1 jam, dan kelahiran anak. Selain

  1. ANIMAL WELFARE LUMBA-LUMBA DALAM KONSERVASI

Prof. Dr. Drh. Agik Suprayogi, MSc, AIF

      Kesejahteraan hewan, khususnya satwaliar seperti lumba-lumba, diatur dalam UU no  18/ 2009 pasal 66 tentang Kesejahteraan Hewan dan Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam no P9/IV-SET/2011. Kesejahteraan hewan (kesrawan) berfokus pada fisik, mental, dan alamiah hewan, dan bagaimana aplikasinya agar dari sudut pandang hewan tentang bagaimana seyogyanya suatu perlakuan dilakukan kepadanya. Poin penting dalam hal ini adalah kualitas hidup hewan dan bagaimana cara manusia meningkatkannya dan tidak menimbulkan penderitaan hewan yang tidak perlu akibat ulah manusia.

      Penilaian kesrawan untuk lumba-lumba penting karena adanya penggunaan satwa dilindungi untuk tujuan peragaan, tumpang tindih kepentingan satwa dan manusia, serta perubahan sikap manusia akibat industrialisasi, globalisasi, pola hidup, dan kemakmuran. Penilaian kesrawan tergantung pada perundang-undangan yang ada di suatu Negara, penerapan hukum di negara tersebut, dan komitmen semua pihak. Penilaian kesrawan juga berfungsi untuk menghindari benturan antara manusia dan lembaga peduli hewan dan manusia serta lembaga yang memperoleh keuntungan dari hewan tersebut. Penilaian ini harus bisa menghasilkan nilai-nilai perbaikan kualitas hidup hewan secara terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *