PRESS RELEASE

HIMPUNAN PROFESI SATWA LIAR FKH IPB 2015

KULIAH PERDANA INTERMEDIET

“Pengelolaan Kesehatan Satwa Liar”

Anggota Himpro SatwaLiar bersama Drh.Pujo Setyo

  Anggota Himpro SatwaLiar bersama drh.Pujo Setyo

  Pada hari Sabtu tanggal 21 Maret 2015, anggota Himpunan Profesi Satwa Liar kelas Intermediet mengikuti kuliah HIMPRO yang diadakan di rung kelas B1 FKH IPB. kuliah ini merupakan kuliah perdana bagi kelas intermediet yang baru. “Pengelolaan Kesehatan Satwa Liar”, adalah materi kuliah hari itu. Kuliah kali ini dibawakan oleh Drh. Pujo Setio dari PUSLITBANG Konservasi dan Rehabilitasi Badan Litbang dan Inovasi Kementrian Lingkungan Hidup & Kehutanan Bogor. Kuliah dimulai pada pukul 11.30 dan berakhir pada pukul 13.00. Peserta cukup antusias mengikuti kuliah, Drh. Pujo mampu membawakan materi dengan menarik.

Pengelolaan kesehatan satwa liar bertujuan untuk menjaga kesehatan serta kesejahteraan hewan liar atau domestik, melindungi perdagangan hewan, dan pada akhirnya bertujuan untuk menjaga kesehatan manusia. Penyakit satwa liar dapat berupa kasus infeksius, traumatis, dan malnutrisi. Prinsip pengelolaan kesehatan satwa liar pada dasarnya adalah pencegahan, bukan pengobatan, karena jika suatu penyakit dapat dicegah kejadiannya maka akan banyak hal yang dapat diefisienkan, meliputi tenaga dan biaya.        Setiap satwa liar itu unik, mereka memiliki ciri dan karakteristiknya masing – masing. Pengetahuan tentang perbadaan karakteristik dan sifat alamiah satwa liar ini harus dipahami dengan baik oleh seorang dokter hewan yang menekuni bidang satwa liar, agar dalam penanganan dan terapi kesehatan satwa liar dapat dilakukan dengan tepat. Penyakit satwa liar juga berasal dari rantai makannya, misalkan harimau terkena penyakit yang ditularkan dari rusa yang dimangsanya. Jadi pengelolaan lingkungan juga menjadi hal yang penting dilakukan, jika suatu ekosistem terjaga lingkungannya, maka akan dapat mencegah menimbulkan terjadinya suatu penyakit.

Penyakit satwa liar biasanya terjadi karena adanya translokasi, perpindahan ini menimbulkan kemungkinan menularnya penyakit. Seperti pada saat burung yang sedang melakukan migrasi, burung-burung tersebut mungkin tidak semuanya sehat dan dapat menularkan penyakit ke hewan lain yang ditemui saat bermigrasi. Meskipun migrasi satwa liar ini dapat menimbulkan potensi menyebarnya penyakit, akan tetapi membatasi pergerakan satwa tersebut akan menyebabkan satwa tidak dapat melakukan perilaku alamiahnya. Karena dengan migrasi ini, satwa dapat mencari rumah yang baru, sumber makanan yang baru, dan lingkungan yang lebih cocok baginya yang akan mendukung keberlangsungan hidup mereka. Lalu, apa yang dapat dilakukan seorang dokter hewan satwa liar?. Penerapan kebijakan penanggulangan penyakit harus tepat dan hati – hati agar tidak timbul kerugian yang akan dialami masyarakat dan pemerintah. Seorang dokter hewan satwa liar harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai jenis penyakit yang menyerang satwa tertentu. Jenis penyakit harus dilakukan dengan cara rapid assesment, yaitu diagnosa secara cepat agar kebijakan penanggulangan penyakit dapat segera diterapkan dengan tepat.

Penyerahan sertifikat kepada drh.Pujo Setyo oleh Aditya Juliansyah

Penyerahan sertifikat kepada drh.Pujo Setyo oleh Aditya Juliansyah

              Memelihara satwa liar yang kini seakan jadi trend di masyarakat yang menyukai satwa eksotis, dapat menjadi potensi penyebaran penyakit. Satwa liar dipelihara seperti satwa domestik. Kemudian jika satwa tersebut diduga memiliki penyakit, maka satwa tersebut akan dilepas begitu saja ke alam. Seperti kejadian mewabahnya Avian Influenza beberapa tahun yang lalu, banyak masyarakat yang memelihara burung kemudian melepas burung tersebut ke alam. Hal ini tentu dapat menimbulkan masalah, burung tersebut dapat menyebarkan penyakit dan terjadinya kompetisi di alam yang membuat hewan tidak dapat survive.Menyadartahukan masyarakat akan bahaya memelihara satwa liar penting dilakukan. Sebesar 60,3% emerging infectious diseases adalah zoonosis, dan 71,8% berasal dari satwa liar. Sosilisasi pada masyarakat tentang hal ini adalah tugas dokter hewan. Sosialisasi juga harus dilakukan dengan benar dan tepat agar tidak timbul kesalahpahaman dalam masyarakat.

            Pencegahan penularan penyakit ke manusia dapat dilakukan secara mandiri dengan WASH, yaitu Wash hand, Avoid touching wild life, Safety, dan Health. Cara ini dapat diterapkan secara mudah kapanpun saat kita akan berkontak dengan satwa liar. Satwa liar yang baru datang di tempat rehabilitasi juga wajib dilakukan karantina, hal ini dilakukan agar satwa tersebut dapat beradaptasi dengan lingkungan dan kawanan yang baru di tempat rehabilitasi, serta menghindari kemungkinan menularnya penyakit.

By: Hazyah Bahrina Hakim (Divisi Pendidikan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *