SEMINAR NASIONAL SATWA LIAR OLEH HIMPRO SATWALIAR FKH IPB

SABTU, 21 NOVEMBER 2015

Acara seminar nasional satwa liar bertema “Medik Konservasi Primata” dengan judul “Manajemen Kandang terhadap Kesehatan Surili” oleh HIMPRO SATWALIAR FKH-IPB diadakan pada hari Sabtu, tanggal 21 November 2015, bertempat pada Gedung Rafflesia, Hotel Duta Berlian, Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dihadiri oleh sekitar 100 orang peserta, yang sekitar 30 diantaranya merupakan mahasiswa FKH dari seluruh Indonesia, dokter hewan pada pusat penangkaran, dan umum. Sesi pertama membahas tentang “Surili dan Perilakunya” yang disampaikan oleh Drh Ida Yuniati Masnur. Sesi ini menjelaskan dan mendeskripsikan surili secara umum. Surili merupakan salah satu jenis satwa primata golongan monyet yang juga merupakan satwa primata endemik Jawa Barat khusunya Bogor. Satwa ini sering dikelirukan dengan lutung. Hidupnya lebih banyak dihabiskan di atas pohon daripada di atas tanah dengan luas home range sekitar 20 Ha pada hutan yang masih terjaga ekosistemnya. Hal ini terkait dengan perilaku makannya yang merupakan hewan folivora (pemakan dedaunan). Perilaku makan ini menjadi perhatian khusus saat surili dirawat bukan di habitat aslinya, karena salah pemberian pakan dapat menyebabkan timbulnya penyakit pada surili (kejadian bloat adalah yang tertinggi). Monyet ini berbobot sekitar 6.5 kg, dengan warna rambut putih saat baru dilahirkan dan berangsur menjadi abu-abu seiring berjalannya waktu. Surili jantan dapat mengawini beberapa betina semasa hidupnya (poligami).

            Sesi kedua membahas “Manajemen Kandang, Biosecurity, dan Manajemen Kesehatan”. Sub-materi “Manajemen Kandang” disampaikan oleh Bapak Made Wedana selaku direktur ASPINAL serta Drh Suryo Saputro. Disampaikan bahwa saat ini jumlah3 surili terus menurun dikarenakan perburuan liar serta menurunnya jumlah hutan akibat penebangan hutan illegal, sehingga menempatkan surili pada kondisi ”endangered” menurut IUCN. Surili merupakan salah satu hewan yang rentan terhadap penyakit dan gangguan lainnya, sehingga cukup sulit untuk merawat hewan ini di penangkaran yang bukan habitat aslinya. Monyet jenis surili masih dapat ditemukan pada daerah Jawa Tengah terutama Dataran Tinggi Dieng, tetapi jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan surili pada daerah Jawa Barat. Apabila surili dirawat dalam penangkaran, maka banyak hal penting yang harus diperhatikan, mulai dari kandang hingga pakan. Kandang untuk surili akan semakin baik jika semakin luas, dengan batas kandang alami seperti bambu setinggi 10 m. Kandang juga harus dilengkapi untuk akses pakan, nutrisi, dan biologis. Pakan yang disediakan harus lah beragam, kurang kebih 24 jenis pakan disediakan untuk surili-surili  di penangkaran ini. Selain dedaunan segar, di dalam kandang juga biasa disediakan mainan atau enrichment agar surili tidak bosan hingga stress. Sub-materi “Biosecurity dan Manajemen Kesehatan” disampaikan oleh bapak Drh Joko Pamungkas. Seperti yang telah disebutkan, bahwa surili merupakan hewan yang rentan baik dari ancaman biologis maupun fisik. Ancaman biologis bagi surili dapat berupa mikroorganisme yang ditularkan non-human primate maupun human-primate (manusia). Penyakit yang paling sering ditularkan kepada surili dari manusia adalah Tubercullosis, yang dapat disebarkan secara aerosol, fecal-oral, maupun melalui fomites (benda asing). Surili juga rentan terhadap benda-benda tajam, allergen, kotoran, dan debu, karenanya kebersihan dan keamanan kandang dalam penangkaran/pusat rehabilitasi surili haruslah sangat diperhatikan. Materi terakhir berkaitan dengan Undang-Undang Konservasi serta hokum mengenai satwa liar langka yang utamanya adalah surili, disampaikan oleh Drh Pujo Setio dengan sub-materi “Undang-undang dan Status Konservasi Surili”, dan “Penegakkan Hukum dan Isu-isu Terkait Surili” yang disampaik11an oleh ibu Fitty Mahmudah, SHut.2

Nadia Yulianti

Divisi Pendidikan Himpro Satwaliar

Fakultas Kedokteran Hewan

Institut pertanian bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *