[ W I L D O R N I T H ] Burung Endemik Indonesia

Posted on Posted in IPB
  1. Macrocephalon maleo

Burung maleo adalah atau sering juga disebut maleo senkawor adalah burung endemik (hanya hidup secara alami di suatu kawasan) di Pulau Sulawesi. Burung ini endemik di hutan tropis dataran rendah pulau Sulawesi seperti di Gorontalo (Bone Bolango dan Pohuwato) dan Sulawesi Tengah (Sigi dan Banggai). Sampai saat ini habitat yang digunakan untuk bertelur hanya ditemukan didaerah yang memiliki sejarah geologi yang berhubungan dengan lempeng pasifik atau australia. Burung Maleo memiliki nama ilmiah Macrocephalon maleon yang berarti kepala besar. Fungsi tonjolan besar diatas kepalanya yaitu untuk mendeteksi panas guna menetaskan telurnya

Klasifikasi ilmiah;
Kerajaan: Vertebrata;
Filum: Chordata;
Kelas: Aves (Burung);
Ordo: Galliformes;
Famili: Megapodiidae;
Genus: Macrocephalon;
Spesies: Macrocephalon maleo;
Nama binomial; Macrocephalon maleo (S. Müller, 1846)

Fakta unik dari burung maleo yaitu mereka akan pinsang setelah bertelur. Maleo bersarang di daerah pasir yang terbuka, daerah sekitar pantai gunung berapi dan daerah-daerah yang hangat dari panas bumi untuk menetaskan telurnya. Besar telurnya kira-kira 5 hingga 8 kali lebih besar dari telur ayam kampung. Selain akan pingsan setelah bertelur, Yang menarik dari burung ini yaitu sesaat setelah menetas, anak burung Maleo sudah dapat langsung terbang. Hal itu terjadi karena kandungan nutrisi yang terdapat pada telur burung maleo lbih besar sekitar 5 sampai 8 kali lebih besar dari telur ayam kampung.Fakta unik lainnya yaitu burung maleo merupakan burung anti poligami.

  • Tonjolan di kepala

Maleo memiliki tonjolan (tanduk atau jambul keras berwarna hitam) dikepala. Pada saat masih anak dan remaja, tonjolan di kepala ini belum muncul, namun pada saat menginjak dewasa tonjolan inipun mulai tampak. Diduga tonjolan ini dipakai untuk mendeteksi panas bumi yang sesuai untuk menetaskan telurnya (Meskipun hal ini masih memerlukan pembuktian secara ilmiah).

  • Tidak suka terbang

Meskipun memiliki sayap dengan bulu yang cukup panjang, namun lebih senang jalan kaki dari pada terbang.

  • Habitat dekat sumber panas bumi
    Maleo hanya bisa hidup di dekat pantai berpasir panas atau di pegununungan yang memiliki sumber mata air panas atau kondisi geothermal tertentu. Sebab di daerah dengan sumber panas bumi itu, Maleo mengubur telurnya dalam pasir.
  • Telur yang besar.
    Maleo memiliki ukuran telur yang besar, mencapai 5 kali lebih besar dari telur ayam. Beratnya antara 240 hingga 270 gram tiap butirnyaH
  • Maleo tidak mengerami telurnya.
    Telur burung endemik ini dikubur sedalam sekitar 50 cm dalam pasir di dekat sumber mata air panas atau kondisi geothermal tertentu. Telur yang ditimbun itu kemudian ditinggalkan begitu saja dan tak pernah diurus lagi. Suhu atau temperatur tanah yang diperlukan untuk menetaskan telur maleo berkisar antara 32-35 derajat celsius. Lama pengeraman pun membutuhkan waktu sekitar 62-85 hari.
  • Perjuangan anak Maleo.
    Anak maleo yang telah berhasil menetas harus berjuang sendiri keluar dari dalam tanah sedalam kurang lebih 50cm (bahkan ada yang mencapai 1 m) tanpa bantuan sang induk. Perjuangan untuk mencapai permukaan tanah akan membutuhkan waktu selama kurang lebih 48 jam. Inipun akan tergantung pada jenis tanahnya. Sehingga tak jarang beberapa anak maleo dijumpai mati “ditengah jalan”.
  • Anak yang mandiri.
    Anak yang baru saja mencapai permukaan tanah sudah memiliki kemampuan untuk terbang dan mencari makan sendiri (tanpa asuhan sang induk).
  • Monogami.
    Maleo adalah monogami spesies (anti poligami) yang dipercaya setia pada pasangannya. Sepanjang hidupnya, ia hanya mempunyai satu pasangan. Burung ini tidak akan bertelur lagi setelah pasangannya mati.

Sumber : http://www.faunadanflora.com/maleo-burung-langka-endemik-sulawesi/

  1. Nisaetus bartelsi

Awal keberadaan Elang Jawa sesungguhnya diketahui sejak tahun 1820, pada saat Van Hasselt dan Kuhl mengoleksi dua spesimen burung ini dari kawasan Gunung salak untuk museum Leiden di Negeri Belanda. Namun pada masa itu, spesimen-spesimen burung ini masih dianggap sebagi jenis elang brontok.Dan pada tahun 1908, atas dasar spesimen koleksi yang dibuat oleh Max Bartels dari pasir datar, sukabumi pada tahun 1907, seorang pakar burung di Negeri Jerman, O Finsch mengenalinya sebagai takson yang baru. Ia mengira jenis ini sebagai anak jenis dari Spizaetus kelaarti, sejenis elang yang ada di Sri Lanka. Hingga pada tahun 1924, prof Stresemann memberi nama takson tersebut dengan epitet spesifik Bartelsi, untuk menghormati Max Bartels di atas dan memasukkan anak jenis elang gunung Spizaetus nipalensis.Burung ini kemudian dikenal dunia dengan nama ilmiah Spizaetus nipalensis bartelsi, hingga akhirnya pada tahun 1953 D. Amadon mengusulkan untuk menaikkan peringkatnya dan mendudukkannya ke dalam jenis yang tersendiri, Spizaetus bartelsi.

Klasifikasi Ilmiah

Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Accipitriformes
Famili : Acciptidae
Genus : Nisaetus
Spesies : N. Bartelsi
Nama Binomial : Nisaetus Bartelsi

Persebaran dari Elang JAwa terbatas hanya di pulau Jawa, dari ujung barat (Taman Nasional Ujung Kulon) hingga ujung timur (Semenanjuing Blambangan Purwo). Namun terbatas hanya di wilayah hutan primer dan didaerah perbukitan berhutan pada peralihan daratan rendah dengan pegunungan. Elang Jawa menyukai ekosistem hutan hujan tropika yang selalu hijau, didaratan rendah maupun pada tempat-tempat yang lebih tinggi. Tempat yang ditinggali elang jawa pada umumnya sukar untuk dicapai, meskipun tidak selalu jauh dari lokasi aktivitas manusia.

Elang Jawa merupakan hewan pemangsa yang berburu dari tempat bertenggernya di pohon-pohon tinggi di dalma hutan. Mereka dengan sigap dan tangkas menyergap aneka mangsa yang berada dalam dahan pohon maupun di darat. Mangsa dari Elang Jawa mulai dari berbagai jenis reptil, jenis burung punai dan sejenis walik, bahkan ayam kampung. Burung elang jwa juga memangsa mamalia berukuran kecil sampai sedang seperti tupai, bajing, kalong, musang sampai anak monyet.

Burung elang memiliki masa bertelur mulai pada bulan januari hingga juni. Telur berjumlah satu butir yang dierami selama 47 hari. Mereka membuat sarang berupa tumpukan ranting-ranting berdaun yang tersusun tinggi dan dibuat cabang pohon setinggi 20-30 diatas tanah.

Total jumlah elang jawa hanya sekitar 137-188 pasang saja atau diperkirakan jumlah individu elang ini hanya berkisar antara 600 – 1000 ekor. Populasi elang jawa ini terbilang kecil, mereka bertahan menghadapi ancaman besar untuk kelestariannya, yang disebabkan oleh kehilangan habitat dan eksploitasi liar. Pembalakana liar dan konversi hutan menjadi lahan pertanian telah menyusutkan tutupnya hutan primer di Pulau Jawa. Selain itu, jenis elang ini juga terus diburu untuk diperjualbelikan di pasar gelap sebagai binatang peliharaan.

Sumber : http://www.faunadanflora.com/elang-jawa-satwa-langka-nasional-yang-terancam-punah

Tahapan Pelepasliaran Burung Liar

Sebelum melepas burung ke alam, ada hal mendasar yang harus kita cermati. Pastikan, burung tersebut memang burung asli dari tempat atau pulau yang akan kita lepaskan nanti. Setelah syarat dasar ini terpenuhi, berikutnya ada tiga tahapan yang harus dilakukan yaitu sebelum pelepasliaran (pra), saat pelepasliaran, dan setelah pelepasliaran (pasca).

Dalam tahap pra pelepasliaran, ada persiapan teknis terkait si burung; seperti identifikasi jenis, kelayakan burung dari faktor kesehatan dan perilakunya; serta persiapan lokasi yang dipilih berupa penilaian kelayakan habitat.

Mengenai kelayakan burung, ini kriterianya:

  1. Kepastian identifikasi jenis burung secara morfologi yang dilakukan oleh ahli ornitologi (biologi burung) didukung identifikasi secara molekuler yaitu dengan analisis DNA
  2. Jenis burung yang akan dilepasliarkan berasal dari wilayah atau tempat kita akan melepasliarkan, atau yang sebelumnya disebut burung endemik
  3. Burung memiliki kondisi fisik normal (menurut ahli ornitologi) serta kesehatan yang baik dan bebas penyakit, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter hewan
  4. Burung tersebut tidak menjadi pengganggu atau pesaing komunitas atau burung-burung lain yang sudah ada di tempat pelepasliaran
  5. Burung aman dari pemangsaan atau gangguan lain baik gangguan satwa lain atau manusia
  6. Sebelum dilepasliarkan, sebaiknya diberi penanda untuk membedakannya dari burung asli yang sudah lebih dulu menghuni. Tujuan utama dari penandaan ini adalah untuk memudahkan pemantauan pasca-pelepasliaran

Penilaian perilaku burung yang akan dilepasliarkan pun penting dilakukan oleh ahli etologi (ilmu perilaku) mengingat burung tersebut sudah mengalami masa pemeliharaan di sangkar. Penilaian perilaku dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap sifat liarnya, kemampuan makan, dan perilaku umum yang biasa dilakukan dalam kegiatan harian seperti terbang, bertengger, bersuara, dan sebagainya.

Sementara, persiapan teknis yang harus dilakukan pada lokasi terpilih adalah:

  1. Lokasi sebaiknya di wilayah sebaran alami burung yang akan dilepasliarkan dan sebaiknya memiliki status perlindungan yang jelas
  2. Kondisi habitat sesuai dengan burung yang akan dilepasliarkan sehingga burung tersebut tidak mengalami perubahan perilaku yang dapat membahayakan keseimbangan ekosistem, serta karakternya mendukung untuk berkembang biak
  3. Lokasi memiliki sumber pakan tersedia dan mudah didapatkan oleh burung yang dilepasliarkan, serta memiliki tempat untuk bertengger dan bersarang
  4. Aman dari gangguan dan ancaman pemangsa atau bahkan manusia sehingga pelepasliaran dijamin akan berhasil

Tahap kedua yaitu pelepasliaran, yang perlu pula dilakukan adalah persiapan teknis pembuatan kandang atau sangkar untuk habituasi (melatih burung terbiasa) dan pemindahan burung dari sangkar pemeliharaan ke tempat habituasi atau pelepasliaran. Sangkar habituasi diperlukan apabila burung sudah lama hidup di kandang dan memerlukan ‘rumah antara’ sebelum kembali hidup di alam bebas.

Kelengkapan administrasi seperti surat rekomendasi kesehatan dari dokter hewan, surat kelayakan perilaku dari ahli perilaku (etologi), surat kelayakan lokasi / tempat pelepasliaran, dan surat menerima burung dari pengelola kawasan harus dibuat. Kegiatan pelepasliaran ini juga perlu disampaikan ke masyarakat sekitar lokasi pelepasliaran agar mereka berperan aktif menjaga burung yang dilepas itu.

Tahap ketiga yaitu pasca-pelepasliaran adalah hal yang sangat menentukan keberhasilan pelepasliaran. Dalam fase ini dilakukan pemantauan berkala terhadap burung yang dilepasliarkan dengan tujuan mengetahui kemampuan burung untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, baik dalam mencari pakan, berinteraksi dengan burung lain yang sejenis atau berbeda, yang pastinya sudah lebih dulu menghuni lokasi tersebut. Kegiatan pemantauan dilakukan sampai burung tersebut bisa menyesuaikan diri dan berhasil berbiak.

Waktu yang diperlukan dari pemantauan sampai kondisi burung yang dilepasliarkan itu baik, tentu saja berbeda, tergantung jenis burung dan masa waktu burung tersebut dipelihara di sangkar. Penting untuk diketahui, pelepasliaran harus dilakukan dengan tanggung jawab. Kegiatan tidak berhenti hingga pelepasliaran saja, tetapi hingga pasca-pelepasliaran. Tentu saja, melibatkan masyarakat sekitar dalam pemantauan, hasilnya akan lebih efektif.

Sumber : http//:Opini Pelepasliaran Burung dan Cara Bijak Melakukannya Mongabay.co.id.htm

G F K

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *