Herping SATLI bersama Komunitas ASPERA

IMG_2842IMG_2816

            Pada tanggal 27 Desember 2013, Himpro Satwaliar FKH-IPB mengadakan kegiatan herping bersama Komunitas ASPERA (Komunitas Edukasi Reptil dari Depok). Herping adalah suatu kegiatan mencari binatang reptil (khususnya ular) di hutan. Tujuan dari Herping sendiri adalah untuk mengetahui bagaimana binatang reptil tersebut hidup di habitat aslinya.

         Kegiatan ini diikuti oleh 26 orang, dimana terdiri dari 16 orang anggota Himpro Satli (12 orang 48, 3 orang 47, 1 orang 46) dan 10 orang anggota Aspera. Kegiatan ini dimulai pada pukul 20.30 WIB diawali dengan perkenalan anggota Satli maupun anggota Aspera. Kemudian sekitar pukul 21.00 WIB, kegiatan herping  dimulai dengan rute FKH, Hutan Perumdos, dan kembali lagi ke FKH. Herping kali ini cukup menunjukkan bagaimana herping sebenarnya, karena sebelumnya telah turun hujan di sore hari. Sehingga medan yang dilalui pun cukup licin. Tak sedikit dari peserta yang terpeleset dan kemudian jatuh.

         Sepanjang perjalanan kami terus mencari keberadaan ular-ular. Cukup sulit untuk mencari binatang melata tersebut, karena kebanyakan dari kulit binatang tersebut hampir menyerupai habitatnya. Setelah berjam-jam mencari, akhirnya sekitar pukul 01.30 WIB kami tiba di tempat awal yaitu FKH. Sebelum dilakukan identifikasi hasil kegiatan herping, kami terlebih dahulu makan malam bersama sambil berbincang-bincang mengenai reptil di BC (Blue Corner). Setelah itu, baru kami melakukan identifikasi hasil tangkapan herping kami.

IMG_2821

        Dari hasil identifikasi, kami mendapatkan 2 ekor ular siput (Tidak berbisa), 2 ekor ular tampar angin (Tidak berbisa), 1 ekor ular pucuk (Berbisa rendah), dan 2 ekor baby ular Albolabris (Berbisa tinggi).

IMG_2827

       Setelah selesai melakukan identifikasi, semua ular di release kembali ke habitatnya (sekitar kampus), kecuali 2 ekor baby Albolabris yang diambil oleh pihak Aspera karena terlalu berbahaya untuk di release disekitar kampus dan selanjutnya akan digunakan sebagai bahan edukasi ke publik. Sebelum berakhir, kami melakukan foto bersama sebagai kenang-kenangan.

#Salam Lestari #Salam Darah Dingin

herping

Mengenal Komodo (Varanus komodoensis)

The animal right

Beberapa bulan yang lalu masyarakat dihebohkan dengan rencana pemerintah melalui Departemen Kehutanan yang akan memindahkan habitat hewan endemic Indonesia komodo (Varanus komodoensis) dari habitat aslinya di pulau Taman Nasional Komodo ke pulau Bali. Berbagai alasan berkembang untuk mendukung rencana tersebut. Salah satunya adalah penyelamatan plasma nutfah asli Indonesia tersebut agar tidak punah, dan tentu saja terkait dengan bisnis kepariwisataan Bali agar lebih menarik pengunjung khususnya dari mancanegara. Rencana tersebut ditentang habis-habisan oleh para aktivis lingkungan dan penduduk di sekitar taman nasional komodo. Hal itu karena selain dapat mengganggu ekosistem juga menurunnya jumlah wisatawan yang menjadi tulang punggung perekonomian penduduk sekitar taman nasional. Dan akhirnya rencana relokasi habitat komodo tersbut ke Bali batal dilakukan.

Kabar menggembirakan bagi masyarakat Indonesia setelah pemerintah mengumumkan bahwa beberapa bulan yang lalu Taman Nasional Komodo menjadi salah satu kandidat kuat dalam New Seven Wonderer of The World. Hal tersebut karena dunia melihat komodo sebagai objek penting, selain keindahan alam di sekitar kawasan tentunya, yang patut mendapat perhatian.

Komodo merupakan spesies kadal terbesar di dunia yang hanya dapat dijumpai di kawasan Taman Nasional Komodo di pulau Komodo, Gili Motang, Rinca, Flores, dan Gili Dasami, provinsi Nusa Tenggara Timur. Satwa yang memiliki nama latin Varanus komodoensis ini termasuk anggota family biawak Varanidae dengan class Toxicofera. Rata-rata panjang tubuhnya yaitu 2-3 meter. Ukuran tersebut berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di habitat pulau karena tidak adanya competitor karnivora lain (posisi puncak ekosistem) sehingga selalu mendapat suplai makanan serta ditunjang dengan laju metabolism komodo yang rendah. Teori lain menyebutkan bahwa nenek moyang komodo berasal dari dinosaurus yang mengalami kekerdilan akibat seleksi alam jutaan tahun silam. Dengan berubahnya biosfer bumi kala itu mengakibatkan dinosaurus yang menduduki posisi puncak rantai makanan kesulitan mendapatkan mangsa sehingga menjadi kadal raksasa bernama komodo.

Komodo ditemukan oleh peneliti barat tahun 1910. Tubuh besar dan reputasi yang mengerikan membuat komodo popular di kebun-kebun binatang. Habitat komodo di alam bebas semakin menyusut akibat aktivitas manusia, bahkan IUCN menempatkan komodo sebagai spesies yang rawan punah (endangered species). Kadal raksasa ini dilindungi pemerintah dalam undang-undang dan menjadikan kawasan habitat komodo sebagai taman nasional. Di habitat aslinya komodo dewasa memiliki massa tubuh sekitar 70 kg, dan bisa lebih besar bila dipelihara di penangkaran. Komodo terbesar yang pernah ditemukan memiliki panjang 3.13 meter dengan berat 166 kg. Meskipun memiliki tubuh terbesar namun dalam hal ukuran panjang masih kalah dengan biawak papua (Varanus salvadorii). Panjang ekornya sama dengan panjang tubuhnya.

Dalam berburu mangsa, yang berupa rusa, kerbau liar, dan babi hutan, komodo mengandalkan air liurnya yang mematikan karena mengandung bakteri yang dapat menimbulkan infeksi sehingga melemahkan mangsanya. Air liur tersebut sering kali bercampur dengan darah karena giginya yang hampir seluruhnya tersusun jaringan gingitiva akan tercabik selama makan. Komodo mempunyai sekitar 60 buah gigi tajam dengan panjang 2.5 cm yang tergantikan bila tanggal. Kondisi demikian menciptakan lingkungan pertumbuhan ideal bagi bakteri untuk hidup di mulutnya. Komodo memiliki lidah panjang yang dapat menjulur-julur, berwarna kuning, dan bercabang sebagai reseptor dalam berburu mangsa (yth)

Institut Pertanian Bogor

Pengelolaan Kesehatan Satwaliar

Pengelolaan Kesehatan Satwaliar ini merupakan bagian dari mata kuliah Pengelolaan Kesehatan Hewan dan Lingkungan (PKHL) FKH-IPB yang diberikan oleh Dr. drh. Ligaya ITA Tumbelaka, SpMP, MSc. Judul ini pulalah yang menjadi penting saat ini bagi satwa-satwa liar di Indonesia khususnya dalam menangani medis konservasinya. Menurut UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, satwaliar didefinisikan sebagai semua binatang yang hidup di darat dan atau di air dan atau di udara yang masih mempunyai sifat liar baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia, sedangkan medik konservasi yaitu suatu bidang baru yang memfokuskan pada interseksi dari Lingkungan, manusia dan non-manusia sebagai inang dan patogen (www.conservationmedicine.org). Lelana (2004) mendefinisikan medik konservasi sebagai segala urusan yang berhubungan dengan penanganan medis maupun keterlibatan tenaga medis secara langsung maupun tidak langsung dalm program pelestarian satwaliar dan dampaknya terhadap lingkungan hidup dan kesehatan manusia. Tujuan dari medik konservasi itu sendiri adalah mencari dan melihat kesehatan ekologis dan penghuninya. Singkatnya medik konservasi melingkupi kesehatan MANUSIA, HEWAN, EKOSISTEM untuk terciptanya sebuah EKOLOGI yang sehat dan seimbang.

Pengelolaan Kesehatan Satwaliar di lembaga konservasi eks-situ atau kebun binatang meliputi:
1. Program pencegahan penyakit

  • Semua petugas yang berhubungan dengan satwa harus sehat, bebas penyakit menular
  • Karantina hewan dengan pemeriksaan fisik umum satwa, vaksinasi, TB Test, deworming, screening penyakit, dan monitoring kesehatan harian
  • Sanitasi kandang dan lingkungan
  • Pemberian pakan yang higienis, harus tersedia tempat penyimpanan dan deforest daging yang bersih
  • Pemeriksaan rutin dan profilaksi

2. Sarana Penunjang

  • Data hasil pencatatan kesehatan
  • Laboratirium diagnostik
  • Pengobatan
  • Klinik / Rumah Sakit Satwa
  • Ruang Nekropsi
  • Pemusnahan cadaver

Dalam menangani satwaliar tentu tidak lepas dari handling dan restrain (pengendalian) satwaliar yang memudahkan dokter hewan melakukan tindakan medis yang diperlukan. Restrain/pengendalian hewan meliputi arti luas mencakup pengendalian secara fisik sampai dengan menghilangkan aktivitas muscular/otot hewan yang dikenal dengan “Immobilisasi”. Pengendalian fisik dengan alat seperti:

1. Jaring Perangkap : untuk menangkap monyet atau kera, harus kuat, terbuat dari nilon.

2. Penutup kepala burung (Bird hoads) : untuk burung unta (Ostrich, Nandu, Emu), Llama yang besar, harus diperhatikan ventilasi penutup untuk pernafasan.

3. Jerat penangkap (catch strap/catch pole) : sering digunakan untuk mamalia yang agresif (anjing hutan, biawak, buaya). Terdiri dari tongkat yang dilengkapi tali yang berakhir dengan lingkaran. Agar tidak tercekik, usahakan memasukkan sebelah kaki depan sebelum menjeratnya.

4. Tongkat ular : untuk menjerat dan menangkap ular, tongkat dapat dilapisi busa untuk menangkap ular dikandang/tempat yang licin.

5. Lariat (tali lasso) : berguna jika dipakai oleh petugas yang berpengalaman. Alat ini bisa memakai “honda” (cincin yang terbuat dari logam) agar tali mudah dilepaskan dan tidak mencekik leher hewan.

6. Ankus (Bull Hook) : digunakan oleh pelatih gajah. Ujung tajan tetapi tidak menembus kulit
karena gajah sangat sensitive dan bereaksi cepat terhadap tusukan benda tajam.

7. Sarung tangan : bila memegang burung/burung pemangsa. Sarung tangan bisa terbuat dari kulit yang elastic atau dari bahan logam, sedangkan untuk burung pemangsa sarung tangan kulit yang tebal.

8. Kait penangkap : untuk menangkap burung/ayam dari kelompoknya. Apabila sudah tertangkap kait harus diletakkan di tanah untuk menghindari luka di kaki.

9. Garpu penangkap : untuk memegang hewan dengan cara menjepit ke tanah. Dapat terbuat dari batang pohon yang ujungnya bercagak atau dari logam(bungkus dengan karet).

10. Kandang perangkap : untung jenis satwa karnivora, primate, buaya. Aman dan tidak stress. Butuh kedisiplinan dan kesabaran. Butuh lebih dari satu kandang.

11. Plastik : efektif untuk menggiring satwa yang sangat mudah stress.

12. Jaring : menggiring jenis herbivore atau primate berkelompok.

13. Kandang jepit : kandang pengobatan.