Biologi, Fisiologi, Nutrisi Satwa Primata Secara Umum


headerprimate logo cluster primate

 

 

Tanggal:16 Maret 2016
Tempat: Exvet

Diskusi I Cluster Primate: Biologi, Fisiologi, Nutrisi Satwa Primata Secara Umum

Primata di dunia sekitar 400 spesies, terbagi atas 6 kelompok, berdasarkan wilayah dan karakteristik. Pembagian primata tersebut adalah: (1) Lemur, (2) Loris, (3) Tarsier, (4) Monyet dunia baru, (5) Monyet dunia lama, (6) Kera dan Manusia. Monyet dunia baru merupakan monyet-monyet yang ditemukan di Benua Amerika dan digolongkan dalam Platyrrhini. Monyet dunia lama dan kera digolongkan ke dalam Catarrhini. Terdapat lebih dari 40 spesies primata di Indonesia (lebih dari 10 % primata dunia). Primata di Indonesia antara lain golongan Loris (Kukang), Tarsier (Tarsius), Monyet dunia lama (Macaca, Lutung, Bekantan), dan Kera (Owa, Siamang, Orangutan).

UntitledUntitled 1

Satwa primata termasuk dalam klasifikasi kingdom animalia, filum chordata, kelas mammalia, sub kelas mamalia berplasenta (eutheria),  superordo euarchonta, dan ordo primates. Satwa primata memiliki karakteristik antara lain (1) rambut menyelimuti hampir seluruh bagian tubuh, (2) masa menyusui relatif lama, (3) homeotermal, (4) ukuran otak berkembang dengan sangat baik, (5) memiliki kemampuan belajar dan tingkah laku yang fleksibel, (6) memiliki tangan dan kaki dengan kemampuan mencengkram, (7) kedua matanya terletak pada bagian anterior.

Berdasarkan aktivitas hidupnya ada primata yang terdapat kelompok primata yang melakukan sebagian besar aktivitasnya di siang hari (diurnal) dan di malam hari (nocturnal). Berdasarkan tempat hidupnya terdapat kelompok primata yang lebih banyak beraktivitas di atas pohon (arboreal) dan di atas tanah (terrestrial). Berdasarkan aktivitas sosialnya, terdapat primata yang hidup secara berkelompok, berpasangan, atau individual. Cara satwa primata saling berkomunikasi ialah melalui ekspresi wajah dan vokaliasasi. Primata umumnya menyusui dalam periode yang lama dan hanya melahirkan satu anak tiap kelahiran (primapara).

Terdapat beberapa jenis penggolongan pakan primata. Faunivore adalah pemakan material asal binatang. Contoh primata yang tergolong faunivore ialah tarsius yang merupakan pemakan serangga. Foliovore adalah pamakan daun dan hijauan. Daun dan hijauan yang berstruktur kompleks dapat dicerna sistem pencernaan yang sangat panjang dan tersegmentasi. Contoh primata yang tergolong foliovore adalah lutung dan bekantan dengan presentase pakan daun dan hijauan yang tinggi. Frugivore adalah pemakan buah-buahan. Umumnya pakan primata merupakan kombinasi dari frugivore, foliovore, dan faunivore dengan jenis dan presentase spesifik setiap spesies.

 

satli(Lutung Merah)            (Owa Jawa)                  (Tarsius)                       (Mongoose Lemur)

 

 

Hari Primata Indonesia 2014: Hentikan Perdagangan Primata!

Seruan penghentian perdagangan primata dikumandangkan oleh aktivis lingkungan di berbagai daerah bertepatan dengan Hari Primata Indonesia yang diperingati setiap tanggal 30 Januari. Seruan itu dilakukan karena perdagangan primata menjadi ancaman paling serius terhadap kelestarian primata Indonesia, setelah kerusakan habitat. Lebih dari 95% primata yang diperdagangkan di Indonesia itu adalah hasil tangkapan dari alam.  Proses penangkapan, pengangkutan dan perdagangan primata  seringkali juga kejam. Ada banyak primata yang mati dalam proses perdagangan primata tersebut.

         Salah satu primata yang kini sedang banyak diperdagangkan adalah kukang (Nycticebus sp). Kukang yang diperdagangkan itu banyak yang sudah dicabuti gigi taringnya oleh pemburu, ini untuk memberi kesan bahwa kukang adalah binatang yang jinak dan tidak menggigit. Kukang yang aktif di malam hari itu menjadi favorit primata yang diperdagangkan karena bentuknya yang lucu dan terkesan jinak. Sepanjang tahun 2013 ProFauna Indonesia mencatat sedikitnya ada 40 kasus perdagangan kukang secara online.

         Momen Hari Primata Indonesia itu digunakan oleh Himpro Satwaliar FKH IPB untuk mengajak masyarakat membantu dalam upaya pelestarian primata Indonesia, salah satu cara termudah bagi masyarakat adalah dengan tidak membeli primata. Pemeliharaan primata di rumah sebagai satwa peliharaan juga rawan terjadinya penularan penakit (zoonosis) seperti TBC, hepatitis dan herpes. Membiarkan primata hidup di habitat alaminya, adalah pilihan bijak yang bisa dilakukan setiap orang untuk alasan kelestarian primata dan kesehatan masyarakat.

         Himpro Satwaliar FKH IPB bekerjasama dengan Profauna Indonesia mengadakan kampanye peringatan Hari Primata Indonesia yang diperingati setiap tanggal 30 Januari. Bertempat di Tugu Kujang, beberapa anggota Himpro Satwaliar mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian satwa primata. Tidak hanya berkampanye, namun juga membagikan sekitar 2000 leaflet mengenai perlindungan satwa primata Indonesia. Dari kegiatan ini diharapkan masyarakat sadar untuk tidak memperjualbelikan atau memelihara satwa primata yang dilindungi.

    Aksi ini ditujukan juga untuk mendesak pemerintah agar serius menangani perdagangan primata yang dilindungi. Masih banyak primata yang dilindungi undang-undang yang diperdagangkan seperti kukang, lutung jawa dan siamang. Menurut UU nomor tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, perdagangan primata dilindungi itu dilarang dan pelakunya bisa diancam dengan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100  juta.

Kampanye Penyadartahuan Kukang

Salam lestari!

Teman-teman tahu Kukang (Nycticebus coucang)? Ya, satwa unik yang satu ini menjadi incaran para pecinta satwa liar yang salah. Kenapa salah? karena cinta satwaliar bukan berarti harus memelihara di rumah. Banyak alasan mengapa tidak dibenarkan memelihara satwaliar tertentu. Kita tahu, dibalik lucunya satwaliar, ada risiko zoonosis yang mengintai kita. Oleh karena itu, sosialisasi mengenai penghentian jual beli dan memelihara satwaliar secara ilegal terus dilakukan oleh berbagai pihak. Tidak peduli, apakah dengan alasan konservasi atau pun kesehatan masyarakat terkait zoonosis, keduanya sama benarnya.

Kali ini, Himpro SATLI mendapat invitasi dari IAR (International Animal Rescue) Indonesia, untuk turut ambil bagian dalam kegiatan kampanye penyadartahuan kukang. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada hari Minggu, 13 November 2011, di area pasar kaget Sempur, Bogor. Bagi teman-teman yang berminat dan ingin tahu lebih banyak, silakan merapat. Salam lestari!

CP: Andika Pandu Wibisono (085711243212)

Pengelolaan Kesehatan Satwaliar

Pengelolaan Kesehatan Satwaliar ini merupakan bagian dari mata kuliah Pengelolaan Kesehatan Hewan dan Lingkungan (PKHL) FKH-IPB yang diberikan oleh Dr. drh. Ligaya ITA Tumbelaka, SpMP, MSc. Judul ini pulalah yang menjadi penting saat ini bagi satwa-satwa liar di Indonesia khususnya dalam menangani medis konservasinya. Menurut UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, satwaliar didefinisikan sebagai semua binatang yang hidup di darat dan atau di air dan atau di udara yang masih mempunyai sifat liar baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia, sedangkan medik konservasi yaitu suatu bidang baru yang memfokuskan pada interseksi dari Lingkungan, manusia dan non-manusia sebagai inang dan patogen (www.conservationmedicine.org). Lelana (2004) mendefinisikan medik konservasi sebagai segala urusan yang berhubungan dengan penanganan medis maupun keterlibatan tenaga medis secara langsung maupun tidak langsung dalm program pelestarian satwaliar dan dampaknya terhadap lingkungan hidup dan kesehatan manusia. Tujuan dari medik konservasi itu sendiri adalah mencari dan melihat kesehatan ekologis dan penghuninya. Singkatnya medik konservasi melingkupi kesehatan MANUSIA, HEWAN, EKOSISTEM untuk terciptanya sebuah EKOLOGI yang sehat dan seimbang.

Pengelolaan Kesehatan Satwaliar di lembaga konservasi eks-situ atau kebun binatang meliputi:
1. Program pencegahan penyakit

  • Semua petugas yang berhubungan dengan satwa harus sehat, bebas penyakit menular
  • Karantina hewan dengan pemeriksaan fisik umum satwa, vaksinasi, TB Test, deworming, screening penyakit, dan monitoring kesehatan harian
  • Sanitasi kandang dan lingkungan
  • Pemberian pakan yang higienis, harus tersedia tempat penyimpanan dan deforest daging yang bersih
  • Pemeriksaan rutin dan profilaksi

2. Sarana Penunjang

  • Data hasil pencatatan kesehatan
  • Laboratirium diagnostik
  • Pengobatan
  • Klinik / Rumah Sakit Satwa
  • Ruang Nekropsi
  • Pemusnahan cadaver

Dalam menangani satwaliar tentu tidak lepas dari handling dan restrain (pengendalian) satwaliar yang memudahkan dokter hewan melakukan tindakan medis yang diperlukan. Restrain/pengendalian hewan meliputi arti luas mencakup pengendalian secara fisik sampai dengan menghilangkan aktivitas muscular/otot hewan yang dikenal dengan “Immobilisasi”. Pengendalian fisik dengan alat seperti:

1. Jaring Perangkap : untuk menangkap monyet atau kera, harus kuat, terbuat dari nilon.

2. Penutup kepala burung (Bird hoads) : untuk burung unta (Ostrich, Nandu, Emu), Llama yang besar, harus diperhatikan ventilasi penutup untuk pernafasan.

3. Jerat penangkap (catch strap/catch pole) : sering digunakan untuk mamalia yang agresif (anjing hutan, biawak, buaya). Terdiri dari tongkat yang dilengkapi tali yang berakhir dengan lingkaran. Agar tidak tercekik, usahakan memasukkan sebelah kaki depan sebelum menjeratnya.

4. Tongkat ular : untuk menjerat dan menangkap ular, tongkat dapat dilapisi busa untuk menangkap ular dikandang/tempat yang licin.

5. Lariat (tali lasso) : berguna jika dipakai oleh petugas yang berpengalaman. Alat ini bisa memakai “honda” (cincin yang terbuat dari logam) agar tali mudah dilepaskan dan tidak mencekik leher hewan.

6. Ankus (Bull Hook) : digunakan oleh pelatih gajah. Ujung tajan tetapi tidak menembus kulit
karena gajah sangat sensitive dan bereaksi cepat terhadap tusukan benda tajam.

7. Sarung tangan : bila memegang burung/burung pemangsa. Sarung tangan bisa terbuat dari kulit yang elastic atau dari bahan logam, sedangkan untuk burung pemangsa sarung tangan kulit yang tebal.

8. Kait penangkap : untuk menangkap burung/ayam dari kelompoknya. Apabila sudah tertangkap kait harus diletakkan di tanah untuk menghindari luka di kaki.

9. Garpu penangkap : untuk memegang hewan dengan cara menjepit ke tanah. Dapat terbuat dari batang pohon yang ujungnya bercagak atau dari logam(bungkus dengan karet).

10. Kandang perangkap : untung jenis satwa karnivora, primate, buaya. Aman dan tidak stress. Butuh kedisiplinan dan kesabaran. Butuh lebih dari satu kandang.

11. Plastik : efektif untuk menggiring satwa yang sangat mudah stress.

12. Jaring : menggiring jenis herbivore atau primate berkelompok.

13. Kandang jepit : kandang pengobatan.