Ordo Artiodactyla Sub Ordo Suiformers

Untitled

DISKUSI CLUSTER WILD HERBIVORE             Ordo Artiodactyla Sub Ordo Suiformes @EXVETSHOP. Kamis 14 April 2016

 

Subordo Suiformes adalah mamalia artiodaktil non-ruminansia yang mencakup family suidae, tayasuidae dan hippotamidae. Anatomi dari Suiformes berbeda dari hewan berkuku genap lainnya. Misalnya, mereka memiliki gigi depan rahang atasyang memungkinkan untuk mengunyah makanan dengan tepat.Kebanyakan binatang berkuku genap memiliki empat ruang perut. Sebaliknya, Suiformes memiliki perut yang sederhana yang memungkinkan diet omnivora.

Hippopotamidae adalah Family yang memiliki dua spesies,keduanya memiliki persebaran diwilayah benua Afrika. Kedua spesies tersebut adalah kuda nil (Hippopotamus Amphibius) dan Pygmy kuda nil (Hexaprotodon Liberiensis).

Hippopotamidae secara historis telah diklasifikasikan sebagai Suiformes unt uk alasan morfologi, tetapi sekarang lebih sering diklasifikasikan sebagai Family dari paus atau Cetacea. Masih belum diketahui dengan pasti mengapa Hippopotamidae diklasifikasikan sebagai Cetacea apakah karena memiliki beberapa ciri yang miripdengan Cetaceaatau hasil konvergensi evolusi. Selain mereka hidup air, kuda nil dan Cetacea keduanya memiliki testis diinternal kulit, dan melahirkan di dalam air dengan fetus yang dikeluarkan pertama keluar adalah bagian belakang. Penelitian terbaru mengatakan kuda nil bawah laut menunjukansuara yang terdengar mirip dengan sonar digunakan oleh Cetacea.

Hippopotamus Amphibious

amphibiousamphibious 2

 

 

 

Kuda nil tergolong Rentan oleh IUCN Red List

Kuda nil memiliki panjang tubuh 300-540cm,tinggi 130-165cm danberat hingga 3200kg. Punggung berwarna abu-abu keunguan dan kecoklatan, dengan bagian bawah merah muda. Ada bercak merah muda pada wajah, terutama di sekitar mata, telinga, dan pipi. Rambutnya tersembunyi dan hampir terlihat tak memiliki rambut. Rambutnya dibasahi oleh kelenjar lendir yang dikeluarkan berupa cairan kemerahan. Tubuhnya besar dan didukung oleh kaki pendek. Mulutnya bisa dibuka sangat lebar untuk memperlihatkan taring yang besar dan melengkung.

Masa kehamilan 8 bulan, dengan 1 anak. Kuda nil disapih saat berumur sekitar 6-8 bulan. Dewasa kelamin pada betina sekitar umur 4-10 tahun, sedangkan jantan 7-12 tahun. Kuda nil dapat hidup selama 50 tahun, namun rata-rata berumur sekitar  30-40 tahun. Kuda nil hidup secara berkelompok yang terdiri dari 10-15 ekor. Hidup di perairan air tawar seperti sungai dan rawa di benua Afrika.

Kuda nil menghabiskan sebagian besar hari dengan berkubang, beristirahat, dan berenang di atau dekat air. Dilihat dari anatominya, kuda nil memiliki kepala yang lebar dengan mata dan hidung yang berada diatas yang memungkinkan untuk tetap berada di atas air sementara kuda nil terendam. Kuda nil biasanya berendam selama 3-5 menit, meskipun mereka dapat tinggal di bawah selama 30 menit. Pada malam hari, mereka muncul dari air untuk merumput. Konsumsi sehari-hari seekor kuda nil adalah 1-1,5% dari berat tubuhnya, dibandingkan dengan rata-rata 2,5 % untuk sebagian besar ungulata lainnya.

Hexaprotodon Liberiensis

liberians

liberians 2

 

 

 

 

Pygmy kuda nil tergolong langka oleh IUCN Red List

Bentuk tubuh Pygmy kuda nil mirip dengan kuda nil (Hippopotamus Amphibius), tetapi jauh lebih kecil. Dengan panjang tubuh 142-175 cm, tinggi 75-100 cm dan berat hingga 272 kg. Perbedaan fisik antara kedua spesies kuda nil adalah penempatan mata, yang lebih ke arah sisi kepala pada pygmy kuda nil, kakinya tidak berselaput seperti kuda nil umumnya, pygmy ini cenderung memiliki kulit yang lebih halus, serta punggungnya berwarna hitam kehijauan. Masa kehamilan 6-7 bulan, dengan 1 anak. Pygmy disapih saat berumur sekitar 6-8 bulan. Dewasa kelamin pada umur 4-5 tahun. Umurnya dapat mencapai 42 tahun. Kawin berlangsung di darat dan di air selama jangka waktu dua hari, dimana 1-4 kopulasi mungkin terjadi. Pygmy merupakan hewan yang soliter. Pygmy kuda nil memiliki banyak tempat beristirahat di daerah mereka yang digunakan khusus ketika tidur. Tempat beristirahat biasanya ditemukan pada wilayah yang lembab. Pygmy kuda nil mencari makanan pada daratan yang lebih tinggi, tanah kering, dan aktif antara jam 6 sore dan tengah malam.

 

 

 

Pengelolaan Kesehatan Satwaliar

Pengelolaan Kesehatan Satwaliar ini merupakan bagian dari mata kuliah Pengelolaan Kesehatan Hewan dan Lingkungan (PKHL) FKH-IPB yang diberikan oleh Dr. drh. Ligaya ITA Tumbelaka, SpMP, MSc. Judul ini pulalah yang menjadi penting saat ini bagi satwa-satwa liar di Indonesia khususnya dalam menangani medis konservasinya. Menurut UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, satwaliar didefinisikan sebagai semua binatang yang hidup di darat dan atau di air dan atau di udara yang masih mempunyai sifat liar baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia, sedangkan medik konservasi yaitu suatu bidang baru yang memfokuskan pada interseksi dari Lingkungan, manusia dan non-manusia sebagai inang dan patogen (www.conservationmedicine.org). Lelana (2004) mendefinisikan medik konservasi sebagai segala urusan yang berhubungan dengan penanganan medis maupun keterlibatan tenaga medis secara langsung maupun tidak langsung dalm program pelestarian satwaliar dan dampaknya terhadap lingkungan hidup dan kesehatan manusia. Tujuan dari medik konservasi itu sendiri adalah mencari dan melihat kesehatan ekologis dan penghuninya. Singkatnya medik konservasi melingkupi kesehatan MANUSIA, HEWAN, EKOSISTEM untuk terciptanya sebuah EKOLOGI yang sehat dan seimbang.

Pengelolaan Kesehatan Satwaliar di lembaga konservasi eks-situ atau kebun binatang meliputi:
1. Program pencegahan penyakit

  • Semua petugas yang berhubungan dengan satwa harus sehat, bebas penyakit menular
  • Karantina hewan dengan pemeriksaan fisik umum satwa, vaksinasi, TB Test, deworming, screening penyakit, dan monitoring kesehatan harian
  • Sanitasi kandang dan lingkungan
  • Pemberian pakan yang higienis, harus tersedia tempat penyimpanan dan deforest daging yang bersih
  • Pemeriksaan rutin dan profilaksi

2. Sarana Penunjang

  • Data hasil pencatatan kesehatan
  • Laboratirium diagnostik
  • Pengobatan
  • Klinik / Rumah Sakit Satwa
  • Ruang Nekropsi
  • Pemusnahan cadaver

Dalam menangani satwaliar tentu tidak lepas dari handling dan restrain (pengendalian) satwaliar yang memudahkan dokter hewan melakukan tindakan medis yang diperlukan. Restrain/pengendalian hewan meliputi arti luas mencakup pengendalian secara fisik sampai dengan menghilangkan aktivitas muscular/otot hewan yang dikenal dengan “Immobilisasi”. Pengendalian fisik dengan alat seperti:

1. Jaring Perangkap : untuk menangkap monyet atau kera, harus kuat, terbuat dari nilon.

2. Penutup kepala burung (Bird hoads) : untuk burung unta (Ostrich, Nandu, Emu), Llama yang besar, harus diperhatikan ventilasi penutup untuk pernafasan.

3. Jerat penangkap (catch strap/catch pole) : sering digunakan untuk mamalia yang agresif (anjing hutan, biawak, buaya). Terdiri dari tongkat yang dilengkapi tali yang berakhir dengan lingkaran. Agar tidak tercekik, usahakan memasukkan sebelah kaki depan sebelum menjeratnya.

4. Tongkat ular : untuk menjerat dan menangkap ular, tongkat dapat dilapisi busa untuk menangkap ular dikandang/tempat yang licin.

5. Lariat (tali lasso) : berguna jika dipakai oleh petugas yang berpengalaman. Alat ini bisa memakai “honda” (cincin yang terbuat dari logam) agar tali mudah dilepaskan dan tidak mencekik leher hewan.

6. Ankus (Bull Hook) : digunakan oleh pelatih gajah. Ujung tajan tetapi tidak menembus kulit
karena gajah sangat sensitive dan bereaksi cepat terhadap tusukan benda tajam.

7. Sarung tangan : bila memegang burung/burung pemangsa. Sarung tangan bisa terbuat dari kulit yang elastic atau dari bahan logam, sedangkan untuk burung pemangsa sarung tangan kulit yang tebal.

8. Kait penangkap : untuk menangkap burung/ayam dari kelompoknya. Apabila sudah tertangkap kait harus diletakkan di tanah untuk menghindari luka di kaki.

9. Garpu penangkap : untuk memegang hewan dengan cara menjepit ke tanah. Dapat terbuat dari batang pohon yang ujungnya bercagak atau dari logam(bungkus dengan karet).

10. Kandang perangkap : untung jenis satwa karnivora, primate, buaya. Aman dan tidak stress. Butuh kedisiplinan dan kesabaran. Butuh lebih dari satu kandang.

11. Plastik : efektif untuk menggiring satwa yang sangat mudah stress.

12. Jaring : menggiring jenis herbivore atau primate berkelompok.

13. Kandang jepit : kandang pengobatan.