Arti Penting Primata

     Tahukah kalian arti penting dari keberadaan satwa liar terutama primata di hutan? Apakah mereka hanya hadir sebagai penghias keasrian alam? Ternyata primata sangat penting keberadaannya dalam regenerasi hutan. Primata yang kebanyakan merupakan pemakan buah berperan besar dalam penyebaran biji-bijian. Setelah memakan buah, biji buah tersebut akan dibuang dengan cara diludahkan atau diekskresikan bersama feses. Primata yang aktif bergerak akan turut memindahkan lokasi pembuangan biji. Biji yang terbuang inilah yang akan jatuh ke tanah dan kelak akan tumbuh menjadi tumbuhan baru di tempat yang baru. DWK

deon

Supriatna J. Wahyono EH. 2000. Panduan Lapang Primata Indonesia. Jakarta (ID): Yayasan Obor Indonesia.

EKSPEDISI HIMPRO SATWALIAR FKH IPB TAMAN NASIONAL UJUNG KULON



        Ekspedisi Himpro Satwaliar (Satli) merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan Himpro Satli FKH IPB sebagai program pendekatan mahasiswa dengan satwa liar di 1-ukhabitat aslinya. Kegiatan ini merupakan puncak pencapaian yang dilakukan oleh Himpro Satli dalam bidang keilmuan yang menggabungkan antara kegiatan diskusi, penelitian dan publikasi pada acara expo. Pelaksanaan ekspedisi tahun ini bertempat di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Kegiatan ekspedisi tersebut dilaksanakan selama sepuluh hari dari 17-26 Juli 2016. Peserta ekspedisi tahun ini diikuti oleh enam mahasiwa FKH IPB dan dua mahasiswa FKH UNAIR. Kegiatan yang dilakukan adalah pencarian segala informasi yang berhubungan dengan kehidupan satwa liar terutama habitat badak. Data yang diambil saat pengamatan yaitu jenis satwa, perilaku satwa, dan kondisi habitat. Hasil ekspedisi publikasikan pada acara Expo yang dilakukan di sekitar kampus Institut Pertanian Bogor.

      2-uk  Perjalanan menuju TNUK menghabiskan waktu sekitar 7-10 jam sampai desa terdekat taman nasional dan 3-4 jam perjalanan dari desa ke lokasi berkemah. Peserta ekspedisi menetap di  pos jaga kehutanan Karang Ranjang selama kegiatan berlangsung. Kegiatan utama yang dilakukan pada ekspedisi adalah pengamatan satwa liar yang dilakukan pada pagi hari dan siang hari menjelang sore hari. Kondisi cuaca selama kegiatan berlangsung kurang mendukung sehingga satwa sulit ditemukan. Selama kegiatan banyak ditemukan hewan primata, biawak, jejak babi hutan, jejak banteng, jejak macan dan jejak badak. Hal tersebut didokumtasikan dalam bentuk foto, video dan gypsum untuk jejak yang ditemukan. 3-uk

PELATIHAN MANAJEMEN SATWA EKSOTIK DAN NEKROPSI REPTIL (PMSE-NR)

kuliahMinggu, 22 Mei 2016, Himpro Satwaliar dan Himpro HKSA FKH IPB mengadakan acara PMSE dan Nekropsi Reptil yang dilaksanakan di ruang kuliah FKH A Fakultas Kedokteran Hewan IPB pukul 08.30 hingga pukul 16.30 WIB. Acara ini dihadiri oleh peserta PMSE-NR yang berjumlah 72 orang dengan Drh. Yulyani Dewi Putri dan Drh. Purnomo sebagai pembicara.

Drh. Yulyani Dewi Putri merupakan dokter hewan praktisi yang ahli di bidang satwaliar, akuatik dan eksotik. Pengalaman beliau sangat banyak selama 12 tahun menggeluti dunia kedokteran hewan. Materi yang diberikan oleh Drh. Yulyani Dewi tentang manajemen satwa eksotik. Peserta yang hadir tampak antusias saat mendapatkan ilmu mengenai manajemen satwa eksotik. Hal tersebut dapat dilihat dari beragamnya pertanyaan yang diajukan oleh peserta kepada pembicara dan diskusi mengenai satwa eksotik berlangsung dengan lancar.

mcDokumentasi saat perkuliahan

Kuliah berikutnya mengenai hewan reptil dan nekropsi ular yang disampaikan oleh Drh. Purnomo sebagai dokter hewan yang berpengalaman dalam dunia satwaliar dan reptil. Beliau juga mengajarkan cara handling, sexing, penyuntikan, rute obat, dan pengambilan darah ular kepada seluruh peserta. Kebanyakan peserta merasa takut saat pertama kali ular dikeluarkan. Namun, antusias peserta semakin tinggi setelah salah satu peserta mencoba memegang langsung ular tersebut yang terbilang masih liar dan agresif

Praktikum handling, sexing, penyuntikan, rute obat, dan pengambilan darah ular dilakukan di paddock dan kembali dipandu oleh Drh. Purnomo yang dibantu oleh Dedy Pahlawan, salah satu perwakilan mahasiswa dari Himpro Satwaliar. Kegiatan tersebut berlangsung cukup lama dan ramai karena kebanyakan peserta takut untuk memegang ular. Banyak peserta yang digigit oleh ular-ular yang digunakan dalam praktikum. Namun, antusias mereka semakin tinggi karena merasa tertantang untuk menghandling ular tersebut dengan benar tanpa menyakiti ular tersebut.

handlingFoto saat handling, sexing, penyuntikan, rute obat, dan pengambilan darah ular di paddock

Kegiatan sexing, penyuntikan, rute obat dan pengambilan darah yang cukup banyak memakan waktu karena dibutuhkan keahlian khusus dalam melakukannya. Tak heran jika banyak peserta yang gagal dalam pengambilan darah karena belum terlatih. Kegiatan yang terakhir, yaitu nekropsi ular yang dilakukan secara langsung oleh Drh. Purnomo. Setelah ular selesai dikuliti, peserta kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok untuk memperhatikan demonstrasi anatomi ular yang diberikan oleh Drh. Purnomo. Banyak peserta yang kemudian menjadi sangat tertarik dengan ular dan akhirnya memilih untuk membawa pulang ular tersebut dan dijadikan hewan peliharaan di tempat tinggalnya.

Harimau Sumatera

Kuliah Cluster Wild Carnivore:

Harimau Sumatera

CARNI 3

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satu dari enam sub-spesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered)

Berdasarkan data tahun 2004, jumlah populasi harimau Sumatera di alam bebas hanya sekitar 400 ekor saja. Sebagai predator utama dalam rantai makanan, harimau mempertahankan populasi mangsa liar yang ada di bawah pengendaliannya, sehingga keseimbangan antara mangsa dan vegetasi yang mereka makan dapat terjaga.

Harimau Sumatera menghadapi dua jenis ancaman untuk bertahan hidup: mereka kehilangan habitat karena tingginya laju deforestasi dan terancam oleh perdagangan illegal dimana bagian-bagian tubuhnya diperjualbelikan dengan harga tinggi di pasar gelap untuk obat-obatan tradisional, perhiasan, jimat dan dekorasi. Harimau Sumatera hanya dapat ditemukan di pulau Sumatera, Indonesia.

Ciri-ciri Fisik

Harimau Sumatera memiliki tubuh yang relatif paling kecil dibandingkan semua sub-spesies harimau yang hidup saat ini.

Jantan dewasa bisa memiliki tinggi hingga 60 cm dan panjang dari kepala hingga kaki mencapai 250 cm dan berat hingga 140 kg. Harimau betina memiliki panjang rata-rata 198 cm dan berat hingga 91 kg.

Warna kulit harimau Sumatera merupakan yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua.

CARNI 4

Ancaman

Harimau Sumatera berada di ujung kepunahan karena hilangnya habitat secara tak terkendali, berkurangnya jumlah spesies mangsa, dan perburuan. Laporan tahun 2008 yang dikeluarkan oleh TRAFFIC – program kerja sama WWF dan lembaga Konservasi Dunia, IUCN, untuk monitoring perdagangan satwa liar – menemukan adanya pasar ilegal yang berkembang subur dan menjadi pasar domestik terbuka di Sumatera yang memperdagangkan bagian-bagian tubuh harimau. Dalam studi tersebut TRAFFIC mengungkapkan bahwa paling sedikit 50 harimau Sumatera telah diburu setiap tahunnya dalam kurun waktu 1998- 2002. Penindakan tegas untuk menghentikan perburuan dan perdagangan harimau harus segera dilakukan di Sumatera.

Populasi Harimau Sumatera yang hanya sekitar 400 ekor saat ini tersisa di dalam blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut, dan hutan hujan pegunungan. Sebagian besar kawasan ini terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan. Bersamaan dengan hilangnya hutan habitat mereka, harimau terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia dan seringkali dibunuh atau ditangkap karena tersesat memasuki daerah pedesaan atau akibat perjumpaan tanpa sengaja dengan manusia.

Propinsi Riau adalah rumah bagi sepertiga dari seluruh populasi harimau Sumatera. Sayangnya, sekalipun sudah dilindungi secara hukum, populasi harimau terus mengalami penurunan hingga 70% dalam seperempat abad terakhir. Pada tahun 2007, diperkirakan hanya tersisa 192 ekor harimau Sumatera di alam liar Propinsi Riau.

Makanan

Makanan harimau sumatera tergantung tempat tinggalnya dan seberapa berlimpah mangsanya. Sebagai predator utama dalam rantai makanan, harimau mepertahankan populasi mangsa liar yang ada di bawah pengendaliannya, sehingga keseimbangan antara mangsa dan vegetasi yang mereka makan dapat terjaga. Mereka memiliki indera pendengaran dan penglihatan yang sangat tajam, yang membuatnya menjadi pemburu yang sangat efisien. Harimau Sumatera merupakan hewan soliter, dan mereka berburu pada malam hari, mengintai mangsanya dengan sabar sebelum menyerang dari belakang atau samping. Mereka memakan apapun yang dapat ditangkap, umumnya babi hutan dan rusa, dan kadang-kadang unggas atau ikan. Orangutan juga dapat jadi mangsa, mereka jarang menghabiskan waktu di permukaan tanah, dan karena itu jarang ditangkap harimau.

Reproduksi

Umumnya harimau memiliki kemampuan bereproduksi tinggi, namun pada betina ovulasi tidak terjadi secara spontan sehingga membutuhkan beberapa kopulasi agar terjadi ovulasi. Sepasang harimau di penangkaran dapat melakukan hingga 27 kali/hari (Santiapillai dan Ramono, 1985) atau setiap 15-20 menit dengan lama kopulasi 10-30 detik/kopulasi (Tilson dan Jackson, 1994). Harimau betina memasuki masa etrus setiap 3-9 minggu, dengan puncak etrus selama 3-6 hari. Di daerah tropis, estrus dan perkawinan hanya terjadi pada musim gugur (Garden, 1996).

CARNI 5

Lama kebuntingan harimau bervariasi antara 93-111 hari dengan rerata 100 hari (Tilson dan Jackson, 1994). Jumlah anak per kelahiran (litter size) 1-7 ekor (Santiapillai dan Ramono, 1985) dan jarak antar kelahiran (caving interval) 2,0-2,5 tahun (REI, 1988). Anak harimau dilahirkan dengan berat 780-1600 g (Garden, 1996), dengan mata tertutup tetapi sudah berkulit bulu (REI, 1988), membuka mata pada umur satu minggu dan dapat melihat dengan jelas pada umur dua bulan (Jackson, 1990). Garden (1996) menyatakan bahwa umur enam bulan anak harimau mulai disapih, mampu berburu sendiri pada umur 18 bulan dan mencapai kematangan seksual pada umur 3- 4 tahun untuk betina dan 4-5 tahun untuk jantan.

Sistem Sirkulasi

Sistem sirkulasi kucing menggerakkan darah melalui tubuhnya untuk memperbaiki sel-sel yang mati dan  memelihara sel-sel yang ada pada tubuh kucing. Sama halnya dengan manusia, jantung kucing juga terdiri dari empat katup dengan detakan sekitar 120—130 kali per menit. Jantung memompa darah melalui arteri dan kapiler yang tujuannya untuk mendistribusikan nutrisi dan oksigen ke seluruh bagian tubuh.

Pencernaan

Pencernaannya didesain lebih efisien untuk memproses daging menjadi energi. Kandungan asam (acid) yang tinggi pada kucing mampu menghancurkan daging dengan cepat sehingga proses pencernaan lebih cepat dibandingkan dengan manusia.

CARNI 2