Magang Himpro Satwaliar 2012

Salam lestari! Untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dalam bidang medis satwaliar, pada liburan semester ganjil ini, Himpro Satwaliar menyelenggarakan fasilitasi Magang Kerja Liburan Himpro Satwaliar 2012! Teman-teman memiliki kesempatan magang di beberapa tempat, yaitu:

1. Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan
2. Kebun Binatang Surabaya
3. Kebun Binatang Gembiraloka, Yogyakarta
4. Kebun Binatang Taman Sari, Bandung
5. Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga
6. Taman Rekreasi Margasatwa (TRMS) Serulingmas, Banjarnegara
7. Pusat Konservasi Gajah-TN Waykambas, Lampung*
8. Gelanggang Samudera, Jakarta Utara (only Satliers)
9. Taman Mini Indonesia Indah
10. International Animal Rescue/ IAR, Bogor (only Satliers)

Shift 1 : 20 Januari 2012 s/d 29 Januari 2012
Shift 2 : 30 Januari 2012 s/d 8 Februari 2012

#International Animal Rescue/IAR (Only Satliers)
20 Januari 2012 s/d 8 Februari 2012

*Way kambas; persyaratan : Maksimal 10 orang , dengan perbandingan laki-laki : perempuan = 3 : 2 atau 2 : 3.

Pendaftaran paling lambat 29 Desember 2011
Jika BERMINAT..
=>> Kirim sms dengan format NAMA LENGKAP_NRP_TEMPAT MAGANG_SHIFT
ke 081392159854/ 083813663534 (Anggi 46).

Salam lestari!

Pengelolaan Kesehatan Satwaliar

Pengelolaan Kesehatan Satwaliar ini merupakan bagian dari mata kuliah Pengelolaan Kesehatan Hewan dan Lingkungan (PKHL) FKH-IPB yang diberikan oleh Dr. drh. Ligaya ITA Tumbelaka, SpMP, MSc. Judul ini pulalah yang menjadi penting saat ini bagi satwa-satwa liar di Indonesia khususnya dalam menangani medis konservasinya. Menurut UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, satwaliar didefinisikan sebagai semua binatang yang hidup di darat dan atau di air dan atau di udara yang masih mempunyai sifat liar baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia, sedangkan medik konservasi yaitu suatu bidang baru yang memfokuskan pada interseksi dari Lingkungan, manusia dan non-manusia sebagai inang dan patogen (www.conservationmedicine.org). Lelana (2004) mendefinisikan medik konservasi sebagai segala urusan yang berhubungan dengan penanganan medis maupun keterlibatan tenaga medis secara langsung maupun tidak langsung dalm program pelestarian satwaliar dan dampaknya terhadap lingkungan hidup dan kesehatan manusia. Tujuan dari medik konservasi itu sendiri adalah mencari dan melihat kesehatan ekologis dan penghuninya. Singkatnya medik konservasi melingkupi kesehatan MANUSIA, HEWAN, EKOSISTEM untuk terciptanya sebuah EKOLOGI yang sehat dan seimbang.

Pengelolaan Kesehatan Satwaliar di lembaga konservasi eks-situ atau kebun binatang meliputi:
1. Program pencegahan penyakit

  • Semua petugas yang berhubungan dengan satwa harus sehat, bebas penyakit menular
  • Karantina hewan dengan pemeriksaan fisik umum satwa, vaksinasi, TB Test, deworming, screening penyakit, dan monitoring kesehatan harian
  • Sanitasi kandang dan lingkungan
  • Pemberian pakan yang higienis, harus tersedia tempat penyimpanan dan deforest daging yang bersih
  • Pemeriksaan rutin dan profilaksi

2. Sarana Penunjang

  • Data hasil pencatatan kesehatan
  • Laboratirium diagnostik
  • Pengobatan
  • Klinik / Rumah Sakit Satwa
  • Ruang Nekropsi
  • Pemusnahan cadaver

Dalam menangani satwaliar tentu tidak lepas dari handling dan restrain (pengendalian) satwaliar yang memudahkan dokter hewan melakukan tindakan medis yang diperlukan. Restrain/pengendalian hewan meliputi arti luas mencakup pengendalian secara fisik sampai dengan menghilangkan aktivitas muscular/otot hewan yang dikenal dengan “Immobilisasi”. Pengendalian fisik dengan alat seperti:

1. Jaring Perangkap : untuk menangkap monyet atau kera, harus kuat, terbuat dari nilon.

2. Penutup kepala burung (Bird hoads) : untuk burung unta (Ostrich, Nandu, Emu), Llama yang besar, harus diperhatikan ventilasi penutup untuk pernafasan.

3. Jerat penangkap (catch strap/catch pole) : sering digunakan untuk mamalia yang agresif (anjing hutan, biawak, buaya). Terdiri dari tongkat yang dilengkapi tali yang berakhir dengan lingkaran. Agar tidak tercekik, usahakan memasukkan sebelah kaki depan sebelum menjeratnya.

4. Tongkat ular : untuk menjerat dan menangkap ular, tongkat dapat dilapisi busa untuk menangkap ular dikandang/tempat yang licin.

5. Lariat (tali lasso) : berguna jika dipakai oleh petugas yang berpengalaman. Alat ini bisa memakai “honda” (cincin yang terbuat dari logam) agar tali mudah dilepaskan dan tidak mencekik leher hewan.

6. Ankus (Bull Hook) : digunakan oleh pelatih gajah. Ujung tajan tetapi tidak menembus kulit
karena gajah sangat sensitive dan bereaksi cepat terhadap tusukan benda tajam.

7. Sarung tangan : bila memegang burung/burung pemangsa. Sarung tangan bisa terbuat dari kulit yang elastic atau dari bahan logam, sedangkan untuk burung pemangsa sarung tangan kulit yang tebal.

8. Kait penangkap : untuk menangkap burung/ayam dari kelompoknya. Apabila sudah tertangkap kait harus diletakkan di tanah untuk menghindari luka di kaki.

9. Garpu penangkap : untuk memegang hewan dengan cara menjepit ke tanah. Dapat terbuat dari batang pohon yang ujungnya bercagak atau dari logam(bungkus dengan karet).

10. Kandang perangkap : untung jenis satwa karnivora, primate, buaya. Aman dan tidak stress. Butuh kedisiplinan dan kesabaran. Butuh lebih dari satu kandang.

11. Plastik : efektif untuk menggiring satwa yang sangat mudah stress.

12. Jaring : menggiring jenis herbivore atau primate berkelompok.

13. Kandang jepit : kandang pengobatan.