Mengenal Komodo (Varanus komodoensis)

The animal right

Beberapa bulan yang lalu masyarakat dihebohkan dengan rencana pemerintah melalui Departemen Kehutanan yang akan memindahkan habitat hewan endemic Indonesia komodo (Varanus komodoensis) dari habitat aslinya di pulau Taman Nasional Komodo ke pulau Bali. Berbagai alasan berkembang untuk mendukung rencana tersebut. Salah satunya adalah penyelamatan plasma nutfah asli Indonesia tersebut agar tidak punah, dan tentu saja terkait dengan bisnis kepariwisataan Bali agar lebih menarik pengunjung khususnya dari mancanegara. Rencana tersebut ditentang habis-habisan oleh para aktivis lingkungan dan penduduk di sekitar taman nasional komodo. Hal itu karena selain dapat mengganggu ekosistem juga menurunnya jumlah wisatawan yang menjadi tulang punggung perekonomian penduduk sekitar taman nasional. Dan akhirnya rencana relokasi habitat komodo tersbut ke Bali batal dilakukan.

Kabar menggembirakan bagi masyarakat Indonesia setelah pemerintah mengumumkan bahwa beberapa bulan yang lalu Taman Nasional Komodo menjadi salah satu kandidat kuat dalam New Seven Wonderer of The World. Hal tersebut karena dunia melihat komodo sebagai objek penting, selain keindahan alam di sekitar kawasan tentunya, yang patut mendapat perhatian.

Komodo merupakan spesies kadal terbesar di dunia yang hanya dapat dijumpai di kawasan Taman Nasional Komodo di pulau Komodo, Gili Motang, Rinca, Flores, dan Gili Dasami, provinsi Nusa Tenggara Timur. Satwa yang memiliki nama latin Varanus komodoensis ini termasuk anggota family biawak Varanidae dengan class Toxicofera. Rata-rata panjang tubuhnya yaitu 2-3 meter. Ukuran tersebut berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di habitat pulau karena tidak adanya competitor karnivora lain (posisi puncak ekosistem) sehingga selalu mendapat suplai makanan serta ditunjang dengan laju metabolism komodo yang rendah. Teori lain menyebutkan bahwa nenek moyang komodo berasal dari dinosaurus yang mengalami kekerdilan akibat seleksi alam jutaan tahun silam. Dengan berubahnya biosfer bumi kala itu mengakibatkan dinosaurus yang menduduki posisi puncak rantai makanan kesulitan mendapatkan mangsa sehingga menjadi kadal raksasa bernama komodo.

Komodo ditemukan oleh peneliti barat tahun 1910. Tubuh besar dan reputasi yang mengerikan membuat komodo popular di kebun-kebun binatang. Habitat komodo di alam bebas semakin menyusut akibat aktivitas manusia, bahkan IUCN menempatkan komodo sebagai spesies yang rawan punah (endangered species). Kadal raksasa ini dilindungi pemerintah dalam undang-undang dan menjadikan kawasan habitat komodo sebagai taman nasional. Di habitat aslinya komodo dewasa memiliki massa tubuh sekitar 70 kg, dan bisa lebih besar bila dipelihara di penangkaran. Komodo terbesar yang pernah ditemukan memiliki panjang 3.13 meter dengan berat 166 kg. Meskipun memiliki tubuh terbesar namun dalam hal ukuran panjang masih kalah dengan biawak papua (Varanus salvadorii). Panjang ekornya sama dengan panjang tubuhnya.

Dalam berburu mangsa, yang berupa rusa, kerbau liar, dan babi hutan, komodo mengandalkan air liurnya yang mematikan karena mengandung bakteri yang dapat menimbulkan infeksi sehingga melemahkan mangsanya. Air liur tersebut sering kali bercampur dengan darah karena giginya yang hampir seluruhnya tersusun jaringan gingitiva akan tercabik selama makan. Komodo mempunyai sekitar 60 buah gigi tajam dengan panjang 2.5 cm yang tergantikan bila tanggal. Kondisi demikian menciptakan lingkungan pertumbuhan ideal bagi bakteri untuk hidup di mulutnya. Komodo memiliki lidah panjang yang dapat menjulur-julur, berwarna kuning, dan bercabang sebagai reseptor dalam berburu mangsa (yth)

Institut Pertanian Bogor